Kamis, 28 Juli 2011

PRODUKSI MEP+


PRODUKSI MEP+




 




















Disusu Oleh:
                                      Nama                            : Nurhesti Febriyani
                                      NIM                              : B1J008039
                                      Rombongan                 : II
                                      Kelompok                    : 2
                                      Asisten                          : Nesti Dwiyani S. P.






LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI INDUSTRI




KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2011
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Makanan merupakan kebutuhan manusia yang paling utama dalam kehidupannya, sebagai sumber energi, untuk pertumbuhan dan beberapa makanan yang dikonsumsi mempunyai peranan tersendiri bagi tubuh yang mengkonsumsinya. Meskipun terkdang ada beberapa makanan yang dapat menyebabkan intolerance baik lactose intolerance dan protein intolerance (Jay, et al., 2005).
Sumber makanan yang banyak dikunsumsi oleh manusia berasal dari hewan dan tumbuhan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Seperti halnya telur, daging baik ayam maupun hewan ruminansia lainnya yang dapat dikonsumsi, ikan yang memiliki kandungan protein tinggi yang bermanfaat dalam meperbaikin jaringan sel yang rusak. Begitu juga tumbuhan yang merupakan makhluk autrotof yang dapat menghasilkan makanannya sendiri dan juga untuk makhluk lainnya seperti manusia dan hewan. Tumbuhan kaya akan karbohidrat, mineral, vitamin dan juga protein merupakan makanan yang paling mudah dan murah didapat (Jay, et al., 2005).
Nilai gizi yang terkandung didalam makanan masih saja mebuat orang memilih makanan apa yang harus di konsumsi dan apa yang harus dihindari karena intolerance yang dimilikinya. Keadaan ini yang memaksa orang untuk menciptakan makanan yang aman bagi mereka yang memiliki kelainan itu, salah satu contohnya adalah produksi makanan dan minuman yang ditambah probiotik. Probiotik yang merupakan mikroba hidup yang non patogen sehingga aman bagi mereka yang mengkonsumsinya (Jay, et al., 2005).
II. Tujuan
Tujuan dari praktikum MEP+ adalah dapat memahami kultur kontinyu dan membedakan dari kultur batch serta mengetahui proses produksi MEP+.




MATERI DAN METODE
I. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis dan kamera digital. Praktikum ini dilaksanakan di Instalasi MEP+ Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

II. Metode
1.      Isolasi Bakteri Indigenus non-patogen
·         Limbah industri tahu, tempe dan tapioka yang didapat diisolasikan untuk mendapatkan bakteri yang diinginkan.
·         Dilakukan pengujian (Amilolitik, lipolitik, proteolitik, selulolitik, produksi vitamin, antagonis patogen) untuk bakteri yang didapat.
·         Diamati hasilnya.
2.      Produksi MEP+
ü  Sterilisasi media fermentasi dengan uap panas 80°C selama 6 jam.
ü  Didiamkan selama 2 hari untuk menurunkan suhunya sampai 30°C.
ü  Media fermentasi dialirkan ketabung kultur kontinyu.
ü  Didiamkan atau diinkubasi selama 1 minggu.
ü  MEP+ siap digunakan.














HASIL DAN PEMBAHASAN
I. Hasil
MEP+ berbentuk cair, berwana putih kekuningan ada juga yang berwana biru kehitaman. MEP+ mengandung campuran bakteri gram positif Lactobacillus delbrueckii, Lactobacillus brevis, Lactococcus lactis, dan Cellutomonas cellase yang bersifat non-patogen, amilolitik, proteolitik, selulolitik, dan lipolitik negatif yang mmapu menghasilkan vitamin B12, C dan K.

 
Fermentor
Produk MEP+ untuk ternak besar
 



 

Produk MEP+ untuk Ikan
Produk MEP+ untuk Ayam
 


Produk MEP+ untuk Tanaman
 
Aturan penggunaan Produk MEP+
 


































II. Pembahasa
MEP+ merupakan salah satu contoh produk fermentasi yang menggunakan peran mikroba yang non patogen merupakan makanan tambahan yang berupa mikroba hidup yang memiliki pengaruh positif antara mikroba normal dan berinteraksi dengan mikroba inangnya, dan meningkatkan perlindungan melalui penyeimbangan flora mikroba intestinalnya, juga sebagai penghasil antimikrobial. Seperti yang dijelaskan oleh FAO dan WHO mengusulkan pengertian baru dari probiotik yaitu mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan bagi innag (Sur, et al., 2010).
Sistem fermentasi yang digunakan dalam produksi MEP+ yaitu kultur kontinyu. Pada sistem kontinyu terjadi penambahan medium secara kontinyu diikuti dengan pengambilan hasil (produk) dengan volume yang sama sehingga konsentrasi sel, laju pertumbuhan, konsentrasi nutrien, konsentrasi produk akan tetap dengan bertambahnya waktu fermentasi.
Seperti yang jelaskan oleh asisten ketika berkunjung langsung ke Instalasi MEP+ Fakultas Biologi UNSOED tahapan dari produksi MEP+  adalah sebagai berikut:
1.      Limbah industri yang akan digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba ditampung, kemudian dialirkan melalui pipa ke atas menggunakan sanyo dan kemudian disterilisasi menggunakan uap panas dari kompor (sterilisasi alat dan bahan) pada suhu 80o C selama 6 jam.
2.      Didinginkan selama 2 hari sampai suhu menjadi 30oC, kemudian media produksi dialirkan ke fermentor untuk proses fermentasi lebih lanjut dengan bantuan starter yaitu bakteri Lactobacillus delbrueckii, Lactobacillus brevis, Lactococcus lactis dan Selutomonas selasea.
3.      Inkubasi selama satu minggu setelah itu dipanen. Untuk proses pemanenan tergantung produk yang dihasilkan dan sesuai permintaan pasar. Keseluruhan proses ini kurang lebih selama satu bulan dari awal sampai tahap pemanenan.
4.      Tahap terakhir adalah pengemasan dengan menggunakan jerigen yang disterilisasi menggunakan uap panas yang dialirkan menggunakan selang.
Perkembangan dan kemajuan suatu masyarakat tidak terlepasa dari kemajuan dan perkembangan pertanian sebagai penghasil pangan. Penduduk Indonesia yang setiap tahunnya terus meningkat menyebkan kebutuhan pangan juga semakin meningkat (Kompiang, 2009). Khususnya dalam permintaan kebutuhan pangan asal ternak baik unggas maupun ruminansia. Dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, dapat diperoleh dengan mengkonsumsi daging yang berasal dari ternak unggas dan maupun ruminansia (Roeswandy, 2006). Kondisi inilah yang melatar belakangi bapak Sukanto untuk menciptakan sebuah produk fermentasi yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan peternakan di Indonesia karena permintaan atas daging terua meningkat.
Syarat dari bakteri probiotik adalah tidak patogen, toleran terhadap asam dan garam empedu, mempunyai kemampuan bertahan pada proses pengawetan dan dapat bertahan pada penyimpanannnya serta memiliki kemampuan memberi efek kesehatan yang sudah terbukti. Lactobacillus sebagai probiotik alternatif penurun kolesterol memiliki kemampuan bertahan terhadap garam empedu, kondisi asam, mampu menghambat bakteri pathogen, tahan terhadap antibiotik dan dapat mengikat kolesterol dengan menempel pada epitel dinding saluran pencernaan (Yulinery, et al., 2006).
Feliatra, et al. (2004) menambahkan, mikroba yang akan dijadikan probiotik hendaknya memiliki persyaratan antara lain adalah tidak bersifat patogen atau mengganggu inang yang mengkonsumsinya, tidak mengganggu keseimbangan ekosistem setempat, mikroba tersebut hendaklah dapat dan mudah dipelihara dan diperbanyak, dapat hidup dan bertahan serta berkembang dalam usus ikan, dapat dipelihara dalam media yang memungkinkan untuk diintroduksikan kedalam usus ikan dan dapat hidup dan berkembang didalam air wadah pemeliharaan ikan.
MEP+ yang merupakan propagulan probiotik dan dengan prinsip dasar kerjanya adalah pemanfaatan kemampuan mikroorganisme dalam memecah atau mengurai rantai panjang karbohidrat, protein dan lemak yang menyusun pakan yang diberikan, yang jika dikonsumsi memberikan pengaruh positif terhadap fisiologi dan kesehatan inangnya (Schrezenmeir dan de Vrese, 2001). Senyawa-senyawa racun yang dihasil-kan dari metabolisme protein dan lemak, serta hasil pemecahan enzim tertentu menjadi semakin berkurang bila bakteri probiotik mulai menjalankan peranannya dalam meningkatkan kesehatan. Berbagai senyawa hasil metabolismenya seperti asam laktat, H2O2, bakteriosin yang bersifat antimikroba dan berbagai enzim yang dimilikinya seperti laktase (membantu mengatasi intoleransi terhadap laktosa) serta bile salt hydrolase (membantu menurunkan kolesterol) serta adanya aktivitas antikarsinogenik dan stimulasi imun sistem (Yulinery, et al., 2006). Prospek penggunaan probiotik pada sapi, unggas dan babi pada ransum mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan, produksi telur dan efisiensi penggunaan pakan, juga penggunaan probiotik dapat mencukupi kebutuhan ayam akan vitamin B (Kompiang, 2009). Begitu juga pemberian probiotik dapat meningkatkan pertumbuhan perikanan (Arief, et al., 2008).






























KESIMPULAN DAN SARAN
I. Kesimpulan
Dari uraian pembahasana di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      MEP+ merupakan salah satu produk fermentasi yang menggunkan sistem kontinyu.
2.      Produksi MEP+ ini menggunakan mikroba indigenous yang bersifat non-patogen, amilolitik, proteolitik, selulolitik danlipolitik negatif yang juga dapat menghasilkan vitamin B12, C dan K.
3.      Tahapana darai produksi MEP+ seperti yangd ijelaskan di atas, secara garis besarnya adalah isolasi mikroba dari limbah dan dilanjutkan dengan inkubasi.

II. Saran
Saran untuk praktikum MEP+  hendaknya dosen ikut mendampingi praktikan ke Instalasi MEP+. Tambahan lainnya MEP+ mempunyai manfaat bagi kemajuan peternakan di Indonesia ada baiknya dipublikasikan pada umum.















DAFTAR REFERENSI
Arief, M., Kusumaningsih, E., dan Rahardja, B. S., 2008. Kandungan Protein Kasar dan Serat Ksar pada Pakan Buatan yang Difermentasi dengan Probiotik. Berkala Ilmiah Perikanan. Surabaya: Universitas Airlangga.
Feliatra, Efendi, I., dan Suryadi, E., 2004. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik dari Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogatus) dalam Upaya Efisiensi Pakan Ikan. Jurnal Natur Indonesia. Pekanbaru: Universitas Riau.
Jay, J. M., Loessner, M. J. and Golden, D. A., 2005. Modern Food Microbiology “Seventh Edition”. United States of America: Springer Science and Busines Media, Inc.
Roeswandy, 2006. Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi Aspergillus niger dalam Ransum terhadap Karkas Itik Peking umur 8 minggu. Jurnal Agribiisnis Peternakan. Departemen Peternakan: Fakultas Pertanian USU.
Sur, D., Manna, B., Niyogi, S. K., Ramamurthy, T., Palit, A., Nomoto, K., Takahashi, T., Shima, T., Tsuji, H., Kurakawa, T., Takeda, Y., Nair, G. B. and Bhattacharya, S. K., 2010. Role of Probiotic in Preventing Acute Diarrhoea in Children: acommunity-based, randomized, double-blind placebo-controlled field trial in an urban slum. India: Cambridge University Press.
Yulinery, T., Yulianto, E. dan Nurhidayat, N., 2006. Uji Fisiologi Probiotik Lactobacillus sp. Mar * yang Telah Dienkapsulasi dengan Menggunakan Spay Dryer untuk Menurunkan Kolestrol. Biodeversitas. Bogor: Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar